Rabu, 18 November 2015

SI CANTIK PENCINTA FOTOGRAFI



SI CANTIK PENCINTA FOTOGRAFI

            Hampir semua orang menyukai fotografi, namun tidak semuanya berbakat dalam bidang ini. Bahkan untuk bisa terjun ke dalam dunia fotografi diperlukan modal yang tidak sedikit. Untuk memulainya anda terlebih dahulu harus memiliki kamera dengan kualitas yang baik, karena fotografi adalah suatu bakat yang harus dikembangkan.
            Bagi gadis bernama lengkap Agustinawati ini, fotografi adalah hobi yang menantang sekaligus menyenangkan. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan gambar yang baik maka dia harus mencari objek yang baik dan bagus pula. Terkadang dia harus memanjat medan yang terjal dan berbahaya hanya untuk mencari objek pemotretan yang indah, seperti di atas gunung atau di dasar lembah.
IMG_20141228_213640.jpg            “Setiap kejadian hidup adalah momen, dan momen itu tidak pernah bisa diulang. Dengan cara memotretnyalah momen itu bisa disimpan,” Tutur gadis cantik kelahiran 17 Agustus 1992 itu, ketika ditanya mengapa menyukai fotografi.
            Fotografi itu membuat hidup terasa lebih hidup, karena setiap kejadian atau momen itu punya makna tersendiri, itulah yang membuat gadis yang akrab disapa dengan panggilan Wati ini akhirnya menerjunkan diri ke dalam dunia fotografi dan jurnalistik.
            “Dengan adanya jurnalistik kita menjadi lebih tahu banyak hal, karena infonya up to date. Fotografi dan jurnalistik itu sama-sama menarik dan menantang, karena kita bisa belajar banyak hal dari luar.” Ucap si cantik sembari tersenyum ramah.
            Untuk kedepannya, dia hanya ingin menjadi orang yang berguna untuk dunia dan orang tua serta lebih cenderung memfokuskan diri dalam dunia jurnalis. Sebuah impian yang sederhana namun pasti. “Apa pun rintangannya, tetap lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan!” Imbuhnya menutup akhir pembicaraan.

Bangga Bisa Menjadi Seniwati



Bangga Bisa Menjadi Seniwati

PINANG- Gadis tomboy kelahiran 20 Oktober 1995 ini terlahir dari keluarga yang sederhana dan anak ke tiga dari enam bersaudara sudah mengemban bakat seninya sejak umur 8 tahun. Salma, nama yang singkat tetapi memiliki arti keselamatan dalam bahasa arab ini sudah memulai bakatnya seperti melukis, menyanyi, kaligrafi, gitar dan bermain keybord. 

Semenjak memulai bakat dibidang seni Salma kecil mulai di kenali oleh guru-guru dan teman-temannya. “saya banyak dikenali orang dan di cari-cari ketika ada perlombaan dan saya sangat bangga bisa terlahir dari keluarga yang mencintai seni karena dari kecil saya sudah dikenalkan dengan musik terutama menyanyi serta dari mereka saya banyak dijarkan tentang seni, yang pasti saya bangga menjadi bagian dari mereka,” ungkapnya.

Saat di bangku SD Salma sudah mulai di ajak ikut lomba dan lomba yang pertama kali ia lakukan adalah melukis. “mengikuti lomba melukis sebagai perwakilan dari Kecamatan Bunguran Timur merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya dan itu merupakan perlombaan perdana saya dalam melukis dan saya berhasil meraih juara dua dari 10 Kecamatan yang ada di Natuna ,” tuturnya.

Ketika memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama ia mulai banyak dibanjiri dengan perlombaan-perlombaan mulai dari akaedemik sampai non akademik. Di bidang akademik ia mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupataen dan berhasil meraih juara tiga serta di tingkat non akademik masih mengikuti lomba melukis tapi belum memperoleh hasil yang baik.
 “ saya pernah melukis mengikuti lomba tingkat SMP tapi saat itu saya gagal namun kegagalan itu tidak membuat saya menyerah,” ungkapnya.

Salma kecil yang tomboy kini sudah mulai beranjak dewasa memilih untuk melanjutkan Sekolah Menengah Atas di Madrasyah Aliyah Negeri, Ranai. Salma tomboy itulah panggilan dari kawan-kawannya dan sering di sapa dengan sapaan abang Salma.Karena sikap dan gayanya yang tomboy ini Salma hampir tidak memiliki teman perempuan. 

Sejak SMA ia mulai memfokuskan bakatnya dalam bidang menyanyi tetapi ia masih sering di ajak membuat tulisan ayat-ayat alias kaligrafi, “ saya mengikuti lomba menyanyi solo tingkat sekolah dan meraih juara dua dan lomba nyanyi melayu serta lomba menyanyi bintang radio meraih juara tiga, saya sangat bersyukur untuk semua yang saya peroleh ” tuturnya. 

Sejak lulus dari SMA ia memutuskan untuk kuliah tetapi harapan untuk kuliah itu harus ia tepiskan terlebih dahulu karena terkendala dengan biaya. Selama menganggur Salma memberikan sedikit keahliannya dengan mengajar menyanyi di TK selama satu bulan dan membantu orang tuanya bekerja sebagai pegawai kopra. 

Dan memasuki tahun 2014 Salma memutuskan untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi Universitas Tanjungpura (UNTAN) tetpai pada saat mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri (SBMPTN) ia di terima di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).  

Sekarang Salma yang berumur 20 tahun ini sudah tercatat sebagai salah satu mahasiswi  Program Studi Bahasa Inggris di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).Awal perkuliahan ia sudah banyak dikenal oleh kawan-kawan seperjuangannya. Ketika itu ada acara Prom Night FKIP dan juga ia ikut mengisi acara tersebut sebagai penyanyi, sejak dari itu banyak yang mengenalinya dan ia di usulkan untuk ikut tes menyanyi yang akan di lombakan di Malaka.

“ Pada waktu itu salah satu organisasi dari kampus memberikan informasi kepada saya tentang adanya perlombaan memperingati hari bulan bahasa di Malaka, setelah banyak melewati berbagai proses dan akhirnya saya terpilih untuk mewakili Kepri sebagai peserta lomba Irama Dendang Sayang,”tuturnya. 

Setelah berangkat ke Malaka bersama rombongan lainnya ia sangat gembira bisa menjadi salah satu perwakilan dari Kepri, meskipun tidak memperoleh juara. “ saya sangat bahagia dan gembira bisa menjadi perwakilan dari Kepri, meskipun tidak bisa memperoleh penghargaan untuk membawa nama baik Kepri tetapi ini kebanggaan luar biasa untuk saya, karena dengan menyanyi saya bisa menginjakkan kaki ke Malaka. Ini semua berkat dukungan dan motivasi dari kakak dan kedua orang tua saya,” gumamnya.

Harga Beras Melambung Naik, Masyarakat Tercekik



Harga Beras Melambung Naik, Masyarakat Tercekik  

PINANG- Kenaikan harga beras di pasar membuat para ibu rumah tangga mengeluh dikarenakan lonjakan harga beras yang kini melambung naik di pasar Koperasi Unit Desa (KUD), pada saat ini berkisar naik 2% per kilo dari harga beras sebelumnya. 

Seorang pedagang pasar yang enggan disebutkan namanya mengatakan, Naiknya harga beras untuk sekarang belum relatif stabil dan bisa berubah dari hari ke hari, akan tetapi untuk saat ini kapasitas harga beras per karung 25 kilogram berkisar Rp250.000 per kilogram jika dibandingkan dengan harga sebelumnya Rp185.000 per kilogram. Ujarnya saat ditemui di tokonya, Selasa (3/11).

”Selain itu, Tutupnya kran impor dari luar juga mengakibatkan harga beras naik dan stok beras habis sehingga beras menjadi mahal serta pelanggan menjadi berkurang begitu juga dengan penghasilan per hari mulai merosot tidak seperti sebelumnya. ” ujarnya.

Dalam hal ini juga, pedagang yang enggan disebutkan namanya ini mengutarakan beras yang impornya dari luar negeri harganya sangat melambung naik seperti beras pisang dan beras anggur sedangkan beras yang dari dalam negeri atau beras lokal yang ikut melunjak naik yakni padang raya, gajah, burung merak dan beras ayam merak. Tuturnya .

Untuk itu, Ahak (60 tahun), pedagang pasar KUD(Koprasi Unit Desa) juga mengatakan biasanya pelanggan membeli per karung sedangkan untuk sekarang pembeli hanya membeli per kilo saja dan pemasukannya mulai berkurang serta pelanggan mulai sepi. 

            Sementara itu, Julyanti (35 tahun) , ibu rumah tangga asal Kelurahan Bukit Bestari, mengaku, hanya bisa mengelus dada dengan kenaikan harga sembako saat ini. Sekarang harga beras naiknya luar biasa. Untuk sekarung dengan kapasitas 25 kilogram, kenaikannya mencapai Rp 50 ribu.
"Biasanya saya beli beras seharga Rp185.000 ribu per 25 kilogram, sekarang jadi Rp 250 ribu," ujarnya.

MIMPI WISUDA GADIS SETERIKA



MIMPI WISUDA GADIS SETERIKA 

Hidup di era yang serba modern ini banyak remaja yang malu untuk berkerja saat berada di bangku sekolah dan perkuliahan. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku bagi  Suci Ramadhia. Gadis yang berumur 21 tahun ini adalah salah satu mahasiswi  Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Tidak seperti remaja seusianya, Dea, begitu Suci Ramadhia biasa disapa, mengisi waktu di sela kesibukan kuliahnya untuk bekerja
Bagi Dea rasa malu tetaplah manusiawi, tapi keinginan untuk  melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi membuat dara asli Tarempa ini harus menepisnya jauh-jauh. Kondisi ekonomi orangtuanya yang sederhana merupakan sebuah dilema bagi Dea. Ia hanya mengandalkan ibunya yang berprofesi seorang penjual kue tentu tidak akan sanggup untuk menanggung semua biaya kuliah dan sekaligus biaya sekolah dua orang adiknya. Sebagai anak sulung, Dea bertekad untuk tidak menyerah dan  mampu membantu keluarga secara finansial, setidaknya dengan cara mencukupi kebutuhan pribadinya saat tinggal jauh dari kampong halamannya.
Kerja bukan hal baru bagi Dea. Ia sudah mulai bekerja dan membantu Ibunya sejak sang ayah memutuskan untuk meningalkanya pada usia 7 tahun saat ia duduk di kelas dua Sekolah Dasar. Ayahnya meninggalkan rumah, praktis ia hanya bersama ibu dan kedua adiknya, Sejak saat itu. Pada usianya yang ketujuh, ia mulai bekerja membantu ibunya berjualan empek-empek, guna memenuhi kebutuhan dan sedikit meringankan beban ibunya.
Ia tidak mengeluh saat harus sekolah sambil berjualan kue-kue buatan ibunya saat bersekolah. Pengalaman pahit dialaminya pada awal berjualan empek-empek. Pemilik kantin sekolah memarahinya di depan teman sekolahnya karena ia lalai dan terambat mengantar dagangan yang seharusnya dijajakan di kantin itu.
Dea kecil kehilangan waktu bermain. Ia merasa sedih, namun itu bukan alasan untuk tidak lagi bekerja membantu ibunya. “ Ada perasaan sedih ketika teman-teman saya mengajak bermain tetapi saya harus bekerja,” katanya, agar dapat melanjutkan pendidikan, saya tidak punya pilihan lain selain tetap bekerja” ujar gadis berhijab ini.
Uang hasil penjualan empek-empek ia setorkan langsung kepada sang ibu untuk dipakai modal membuat dagangan di hari berikutnya. Tidak hanya berjualan empek-empek, saat duduk di kelas 1 SMU Negeri 1 Siantan, Anambas, Dea juga mengambil order setrika pakaian dari guru-gurunya. “Saat itu saya mengerjakan baju dari dua guru dan keluarganya,” kata Dea.
Untuk satu keluarga, Dea menerima upah Rp300 ribu perbulan, pada tahun 2010 silam. Selama tiga tahun menerima order setrikaan, Dea mampun menabung sejumlah uang untuk masuk ke perguruan tinggi, bahkan membeli sebuah komputer jinjing, untuk keperluannya belajar.
“Saya senang bisa beli laptop dari keringat sendiri, padahal itu seharga lima juta rupiah, sangat banyak untuk ukuran keluarga saya,” katanya bercerita.
Pertama kali menginjakkan kaki di Tanjungpinang, Dea diantar oleh ibunya. Ia senang meskipun belum ada jaminan diterima di kampus. Dea mengikuti tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dan meminati jurusan teknik di UMRAH.
Ia sempat diterima di Jurusan Teknik Informatika UMRAH tahun 2012, namun ia merasa salah jurusan dan banting setir ke jurusan Bahasa Indonsesia.
“Saya pikir teknik itu gambar-gambar, bikin kartun, ternyata tidak,” ungkapnya polos. Dea yang menjalani masa SMA jauh dari ibukota provinsi itu merasa memperoleh informasi yang kurang memadai.
Masa awal kuliah dijalaninya dengan bekerja menyetrika dan cuci baju. Untuk satu bulan bekerja, ia mendapatkan upah Rp200 ribu perbulan. Uang yang tidak terlalu banyak itu cukup bermanfaat baginya. Dea menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya sekarang bekerja sebagai pencuci pakaian dan tukang setrika pakaian. Saya hanya dibayar 200 ribu perbulan. Sebenarnya uang ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan saya, teapi setidaknya bisa menutupi sedikit kebutuhan pribadi saya dan bisa meringankan sedikit beban ibu saya,” katanya.
Selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, uang hasil pekerjaannya juga digunakan untuk membeli buku-buku pelajaran yang bisa digunakan untuk menjadi acuan menambah wawasannya.
“ Pada awal-awal kuliah saya sangat susah untuk mengatur jadwal bekerja dan kuliah, akan tetapi seiring berjalannya waktu saya bisa mengatasinya. Terkadang ada perasaan marah dan kecewa ketika saat melihat teman-teman saya memiliki orang tua yang utuh dan tidak perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tetapi jika saya melihat anak diusia saya tidak memiliki kedua orang tua dan harus hidup dijalanan saya menjadi sadar bahwa masih banyak orang yang nasibnya lebih buruk dari saya” ujar Dea.
Walaupun bekerja tetapi kuliah tetaplah nomor satu ujar gadis kelahiran Tarempa pada 16 Februari 1994 ini. Dea mengatakan apabila pada saat Ia harus bekerja tetapi juga ada kerja kelompok Ia lebih memilih untuk menunda pekerjaanya terlebih dahulu dan memilih untuk menyelesaikan tugas kelompoknya.
Kuliah sambil bekerja bukanlah suatu hambatan bagi Dea untuk tidak menyelesaikan tugas-tugasnya sebagai mahasisiwa. Terkadang memang susah untuk membagi waktu dan pikiran, antara kuliah sambil cari dana sampingan. Namun semua itu dilakukan karena sadar akan kondisi keluarga dan demi meraih cita-cita yang sudah di depan mata.
Meskipun membagi waktu itu sulit, namun hal tersebut bukanlah menjadi penghalang bagi gadis berkulit sawo matang ini untuk mengejar cita-cita nya menjadi seorang guru. Di sela kesibukan  waktu kuliah dan kerja, Alhamdulillah Ia masih bisa mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.10 dengan semangat serta dukungan dari ibunya.
“ Alkhamdulillah, saya masih bisa mendapatkan IPK 3,10 meskipun tidak terlalu tinggi tapi saya sangat bersyukur untuk semua usaha yang saya dapatkan.” Tuturnya.
Diakhir sesi wawancara Dea juga memberikan motivasi kepada teman-teman yang lain.“ teman-teman jangan pernah malu untuk bekerja sambil kuliah selagi pekerjaan yang kita lakukan itu halal dan dapat membantu kita untuk menwujudkan cita-cita kita. (Tugas Liputan Feature, Magang – ISTIQOMAH)